Senin, 20 Juni 2011

Kangen Putus Sama Kamu

Dengan rasa malu mungkin karena seorang gadis remaja yang kepergok selingkuh berkata, "Nggak bisa, Vin. Lebih baik kita putus aja ya... Maaf!"
    Lalu  6 bulan berselang Revin menerima sms dari pacar yang baru 1 minggu di dipacarinya dan isinya...
    KITA PUTUS AJA!!!!!!
    Payah memang. Padahal dia itu good looking, pinter, baik,berduit, dan sebenarnya adalah tipe orang yang sangat setia pada pasangannya. Namun mungkin dia sedang sial.
    "Ouh putus... Apa-apaan ini. Sopan sekali memutuskan aku begitu saja. Caranya juga nggak gentle banget. Emang sich cewe... Tapi kan ada donk cara mutusin yang bagus... Coba   aja semua cewe kayak Putri yang punya cara murusin yang unik....Aaahk aku jadi kangen putus sama kamu, Put. Kamu dimana ya sekarang?"
    Ya Putri orangnya. Tiga lalu ketika Revin yang masih kelas 11 SMA bertemu dengan seorang siswi. Revin yang tadinya duduk di kelas 10 harus memutuskan masuk kelas IPA atau IPS. Dia tidak bisa masuk IPS karena dia tidak pandai mengafal, sehingga mau tidak mau dia masuk kelas IPA.
    Di kelasnya XI IPA-2, dia bertemu teman yang baru. Dia mulai melihat dan memperhatikan temannya satu persatu. Ada yang memang sudah kenal bahkan akrab sekali, tapi... hey lihat, ada seorang siswi yang duduk tidak jauh dengannya. Gadis itu bernama Putri. Dia terus saja melirik dan  memperhatikannya. Dia memperhatikannya, karena ada kemiripan antara Putri dengan almarhum kakaknya. Di saat gadis itu Revin, dia pura-pura manoleh ke arah lain. Ya begitu saja selama 1 hari bahkan sampai 1 minggu pertama sekolah ajaran barunya.
    Kali ini ketika Revin melihatnyanya lagi, dan Putri yang tahu Revin melihatnya menjadi merasa terganggu. Akhirnya Putri melihat Revin. Saat itu Revin hanya bisa berkata, "Hai!", dengan manis Putri menjawab "Hai juga..." Sebenarnya Putri kebingungan, apa ada yang salah dengannya. Yang membuat kejadian ini menjadi aneh adalah karena saat itu adalah pelajaran berlangsung. Beberapa murid yang melihatnya bingung juga. Aneh!
    Suatu hari Revin melihat Putri berjalan pulang. Revin mau tidak mau berjalan di belakang Putri karena mereka jalan satu arah. Revin baru tahu ternyata Putri setiap pulang sekolah selalu jalan kemari. Dan Revin sangat senang bisa pulang bersama Putri.
    "Put, sendiri aja..." Revin menyapa Putri dengan semangat.
    "Hah... Iya..." Putri yang kaget karena tidak menyadari ada Revin di belakangnya hanya jawab seadanya.
    "Mmh... "
    Setelah percakapan sangat singkat itu mereka hanya diam saja sampai perempatan. Di mana mereka berjalan ke arah yang berbeda.
    "Vin, aku duluannya."
    "Iya, hati-hati ya."
    Revin yang hanya diam diperjalan, dia sebenarnya gugup. Lagi pula dia tahu kalau Putri itu anak yang pendiam di kelasnya. Lagi pula Revin mau bicara apa? Sedangkan Putri yang memang anak rumahan, merasa heran dengan ucapan Revin yang terakhir "Iya, hati-hati ya", sebelumnya tidak ada laki-laki yang pernah mengucapkannya.
    "Hei, aku baru beli majalah baru."
    "Lihat ramalan bintangnya!"
    "Putri, bintang kamu apa?"
    "Bintang aku Virgo... Aku dulu ya! Minggu ini kamu harus lebih terbuka sama orang, supaya orang juga bisa enak deket sama kamu. Keuangan lagi bagus, Asmara kamu lagi ditaksir sama orang yang deket sama kamu, temen satu kerja..."
    "Waw, bisa jadi temen satu kelas ini..... siapa ya?"
    "Hah... Aaahk...cuman ramalan bintang aja..."
    "Ih, bisa aja aja donk."
    Sementara yang lain membaca ramalan bintang mereka, Putri hanya duduk diam saja. Revin tahu akan ramalan itu...dia lalu berkata, "Aku suka sama kamu..." Tapi karena anak satu kelas yang ribut dan suara Revin yang pelan (mungkin sengaja, tapi memang suaranya pelan) walaupun dalam jarak 3 m, tapi perkataannya tidak jelas. Sekali pun Putri meminta Revin mengulang perkataannya, namun tetap saja tidak jelas. Hah,,, lucu...
    Di perjalan pulang Revin dan Putri yang hampir selalu pulang bersama, ya masih sepi saja. Tapi kali ini hujan lebat...mereka harus berteduh dahulu... Mereka berdua kelihatan serasi karena kebetulan memakai warna jacket yang sama.
    "Put,"
    "Iya?"
    Lalu petir yang sangat besar menyambar. Putri biasa saja, namun justru Revin yang ketakutan.
    "Kamu kenapa, Vin?"
    "Nggak... Put, kamu miirip sama kakak aku," rupanya Revin hanya mencoba mengalihkan pembicaraan.'Tapi sayang dia udah meninggal. Dia sama kamu pendiam sekali. Tapi aku yakin kok kamu anak yang unik. Di balik pendiamnya kamu, pasti ada yang istimewa. Aku jadi mau tahu... Mmh... Ouh iya, Put. Jadi gimana?"
    "Gimana apa?"
    "Itu lho, Put!"
    "Itu apa?"
    "Yang itu!"
    "Yang itu apa?"
    "Kamu pura-pura nggak tahu atau apa?"
    "Aaahk nggak ngerti..."
    "Di kelas aku udah ngomong suka kan sama kamu, aku mau kamu jadi pacar aku. Kamu mau kan, Put."
    "Ih... Kok... Huh... Gimana ya? Kita lihat besok aja ya. Aku cari ilham dulu. Aku pulang dulu ya, Vin!" Putri bingung mau bilang apa. Dia memilih cepat pulang. Putri langsung saja naik angkotan umum yang kebetulan berhenti di depannya. Entah mau apa kalau angkot itu tidak kebetulan ada di depannya.
    "Ouh iya..."
    Kali ini Revin yang aneh dengan kata-kata Putri "Aku cari ilham dulu". Tapi Revin merasa bahagia, paling tidak dia tidak langsung ditolak. Berharap saja supaya Putri mendapatkan ilham yang bagus dan mau jadi pacarnya.
    Keesokannya setibanya di sekolah, Revin bukannya lekas menyimpan tasnya dia malah mendatangi Putri. "Gimana?", tanya Revin. Putri tidak menjawab apa pun, tapi dia mengangguk sambil tersenyum manis. "Makasih ya, Put!" senyum Putri pun semakin lebar.
    Mereka adalah pasangan yang diidamanin sama anak kelas. Mereka saling mengerti satu sama lain. Lucunya kalau ada pasangan yang sedang mendapat masalah, tidak sedikit yang berkonsultasi pada mereka. Dalam hal komukasi, mereka sangat baik. Tidak selalu berdua memang, tapi mereka itu bisa percaya dan menjaga kepercayaan satu sama lain. Ya Romantis yang jelas sih...
    Tepat sebulan sesudah mereka pacaran. Putri ingin ke rumah Revin. Revin dengan senang hati memperbolehkan Putri datang ke rumahnya.
    "Selamat datang di rumah aku, Put!"
    "Rumah kamu besar juga ya?"
    "Ya udah, biar enak ngobrolnya di halaman belakang yuk. Di sana lumayan asri lah..."
    "Iya boleh!"
    Mereka pun duduk di kursi besar. Di sana banyak pepohonan, ada juga kolam ikan di sana.
    "Sudah sebulan ya, Put!"
    "Iya..."
    "Kamu mau minum apa? Biar aku ambil dulu."
    "Udah duduk dulu aja. Aku itu mau kasih sesuatu sama kamu." Putri mengeluarkan kue tar kecil yang penuh coklat dari tasnya. "Ini bisa kita makan berdua. Nggak terlalu besar atau terlalu kecil kan?"
    "Lho...?"
    "Aku mau kita habisin kue ini berdua sekarang. Bisa kan?"
    "Hahaha... Kamu lucu banget... Ya udah kita makan."
    Sambil makan mereka bercerita tentang ini lah itu lah... Lumayan deh... Sambil bercanda ketawa...Tak terasa ternyata kue itu habis juga. Putri mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan ternyata isinya adalah coklat.
    "Kamu masih mau makan coklat?"
    "Aku baru makan kue yang penuh coklat, kamu kok nawarin coklat lagi?"
    "Coba kamu ibaratkan coklat itu seperti cinta. Ya seperti itu...cinta awalnya memang enak. Tapi seperti kue coklat itu, waktu kamu memakannya sampai habis dan kamu harus makan coklat lagi kamu pasti tidak akan memakannya walaupun aku tahu itu coklat itu enak."
    "Aku nggak ngerti, Put!"
    "Seperti aku, orang yang mempunyai cinta di hidup aku, dan itu dari kamu. Tapi aku tidak mau termakan cinta kamu yang terlalu manis itu sampai berlebihan... Tapi aku suka sama kamu."
    "Apa maksud kamu?"
    "Aku rasa cinta aku ke kamu, rasanya sudah hampir memakan coklat ini. Tapi tentu tidak, karena rasanya dimulut tidak akan terlalu enak. Karena yang past terlalu manis, malah aku bisa enek. Jadi sebelum aku semakin jatuh cinta sama kamu, dan nggak bisa lepasin kamu, atau malah kita punya masalah besar yang enek karena kau menerima cinta dari kamu terlalu banyak, lebih baik kita akhiri saja hubungan ini."
    "Maksudnya kita putus. Kok..."
    "Maaf ya... Itu karena aku cinta sama kamu. Tapi aku belum sanggup untuk menerima cinta kamu lebih dari sekarang. Aku belum mau terlarut dalam cinta yang berlebih."
    "Tapi kan..."
    "Vin..."
    "Put, aku nggak bisa putus sama kamu!"
    "Kamu harus bisa!"
    "Ayolah, Vin."
    "Sebenernya aku nggak mau.... Tapi alasan kamu mutusin aku karena kamu sayang sama aku, itu alasan yang aneh. Tapi aku ngerti kok... Aku malah berterimakasih sama kamu, dan bersyukur karena aku udah punya pacar kayak kamu. Mungkin cuman kamu yang putusin aku kayak gini."
    "Hhh, biar walau pun kita udah putus, tapi hubungan kita baik. Apalagi kita teman satu kelas."
    "Sebenernya aku sedih putus sama kamu, tapi makasih ya! Ini pengalaman putus yang tidak buruk."
    "Aku mau peluk kamu yang terakhir kali boleh?"
    Revin memeluk Putri. Ternyata itu adalah pertemuan terakhir Putri dan Revin sebelum Putri pindah ke luar kota. Putri hanya ingin merasa lega meninggalkan Revin yang sekarang tidak berstatus sebagai pacar lagi. Karena akan lebih berat rasanya ketika Putri meninggalkan Revin ketika mereka masih berpacaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar