Senin, 20 Juni 2011

Cuman Kamu

Lena dan Pandu dua bulan lagi akan menikah. Mereka berpacaran terbilang lama yakni 5 tahun, meskipun memang tidak mudah melewati lima tahun berpacaran, karena tidak mungkin semuanya baik-baik saja. Sebagai pasangan yang telah lama menjalin hubungan, mereka juga tentu mempersiapkan pernikahan mereka jauh-jauh hari agar pernikahan tersebut berjalan dengan baik, karena pernikahan bukanlah moment yang biasa-biasa saja, melainkan ini adalah peristiwa sekali seumur hidup yang istimewa demi masa depan sebuah keluarga.
    Suatu saat Pandu ingin mengajak Lena untuk mencoba baju pengantinnya. Pandu menjeput Lena ke rumahnya, tetapi Lena tidak di sana. Pandu pun menelpon Lena, "Len, kamu ada di mana sekarang? Aku mau ngajak kamu coba baju pernikahan kita nanti."
    "Aku sekarang di rumah sakit," jawab Lena, tapi terdengar dari suaranya ia ragu untuk mengatakannya.
    "Kamu kenapa? Kalau kamu sakit kan kamu bisa antar aku."
    "Tapi aku....." Lena belum selasai bicara namun Pandu langsung menutup telponnya.
    Akhirnya Pandu pun segera menuju rumah sakit. Sebagai seorang calon suami dia tentu khawatir. Tetapi dilihatnya Lena sedang berbicara dengan dokter muda, Pandu menjadi sedikit cemburu melihatnya, "Len, kamu sakit apa?"
    "Aku nggak sakit apa-apa kok, udah kamu nggak usah khawatir," Lena mencoba meyakinkan sambil memegang tangan Pandu.
    "Terus kalau gitu ngapain kamu ke sini?"
    "Aku cuman....."
    "Cuma apa?"
    "Aku cuman mau kunjungi sepupu aku. Jadi dokter ini sepupuku, namanya Samuel," jawab Lena, tapi di saat dia berbicara bibirnya bergetar dan terlihat dia ragu.
    "Perkenalkan, nama saya Samuel," Samuel memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
    "Saya Pandu, calon suami Lena," jawab Pandu cepat sambil membalas uluran tangan Samuel.
    "Kalau gitu kita duluan ya Sam!" kata Lena.
    "oh iya silahkan, lagi pula saya masih ada tugas." Samuel masuk ke sebuah ruangan, Lena dan Pandu pun pergi meninggalkan rumah sakit ke tempat fitting baju pernikahan.
   
    Di perjalanan menuju kantor, Pandu melihat Lena ke rumah sakit tempat Samuel bekerja. Pandu pun menjadi semakin penasaran terhadap hubungan Samuel dan Lena. Sesampainya di kantor, Pandu dan Ine yang adalah teman satu kantor pun bertemu, Ine adalah sepupu Lena. PAndu rupanya ingin mengetahui informasi Samuel darinya.
    "Ine, apa kamu tahu seberapa dekat hubungan Samuel dengan Lena?"
    "Samuel? Aku nggak kenal orang yang namanya Samuel. Lagi pula kenapa kau tanya aku?"
    "Samuel, masa nggak tau? Samuel yang dokter. Samuel itu kan sepupu Lena. Paling nggak yang dia bilang ya begitu."
    "Maaf, tapi aku nggak kenal Samuel. Tapi rasanya dia nggak punya sepupu yang namanya Samuel."
    "Hah... yang benar saja. Apa mungkin sepupu yang bukan dari keluargamu?"
    "Sepertinya tidak, tidak ada keluarganya yang menjadi dokter.  Jika iya semestinya aku tahu. Memang ada apa sebenarnya?"
    "Entah aku hanya ingin ke dokter saja....." Pandu berbicara degnan ketus, karena memang dia tidak sakit.

    Pandu ternyata menemui Lena, terlihata dia marah,"Lena, buat apa kamu bohong?"
    "Bohong?"
    "Samuel... Ya Samuel, kamu bohong kan. Len? Aku udah tahu...mana ada sepupumu yang seorang dokter dengan nama Samuel?"
    "Pan... Aku  juga sebenernya nggak tahu kenpa harus bohong sama kamu."
    "Gak tahu kenapa kamu bohong, kamu itu sebenernya kenapa sih? Aneh... Kamu itu setahu aku orang yang logis... Sekarang aku tanya, siapa Samuel?"
    "Dia itu.....hanya teman SMA aku."
    "Hah...jawab begitukan bisa, terus kenapa harus bohong, Atau jangan-jangan kamu selingkuh sama dia. Jujur, aku lihat tadi pagi kamu datang lagi ke rumah sakit itu. Baru kemarin, tapi hari ini kamu udah ke sana...apa kamu sering ke sana? Inget donk, bentar lagi kita mau nikah!  Kalau kamu mau bisa aja kita melaksankan pernikahan di rumah sakit itu, atau...atau kamu mau pengantin laki-laki di pernikahan itu bukan aku tapi dia?" Pandu benar marah, dia berbicara dengan nada tinggi.
    "Udah cukup, Pan! Aku nggak mau kayak gitu, sungguh aku nggak mau kayak gitu akhirnya," Lena berbicara dengan nada yang lemah.
    "Terus apa mau kamu."
    "Kamu akan tahu, tapi... memang bukan sekarang waktunya."
    "Bukan sekarang? Ok kalau itu mau kamu. Tapi aku nggak mau peduli lagi sama kamu. Terserah apa mau kamu, aku juga akan bertindak suka-suka aku." Pandu pergi. Lena hanya diam sambil menangis, Dia sangat lemah bahkan hampir pingsan.
   
    Lena dan Pandu tidak bertemu sampai satu minggu sebelum pernikahan mereka. Pandu datang ke rumah Lena. Namun Lena tidak ada di rumah. Langsung saja tanpa berpikir panjang Pandu melaju dengan mobilnya ke rumah sakit dengan kencang.
    Ternyata benar saja Lena dan Samuel sedang berjalan-jalan di koridor rumah sakit. Pandu lekas mendatangi mereka, tidak diduga ternyata Pandu memukul Samuel, "Puas kamu... Puas kan? Mungkin sekarang kamu sedang bahagia sudah mengancurkan hubungan orang."
    Lena berusaha menghentikan amarah Pandu, namun Lena malah didorongnya. Lena pun menangis. Pandu cepat diseret oleh satpam yang datang. Tapi Pandu teteap berteriak yang tidak-tidak.
    "Sam, aku salah sama kamu. Kamu udah masuk ke dalam masalah aku sama Pandu."
    "Tidak, kamu tidak perlu minta maaf. Lagi pula saya tidak akan menyalahkan kamu atau Pandu sekali pun. Baiknya kamu pulang dan banyak-banyak istirahat."
    "Iya aku pulang," Lena pulang dengan termenung.

    Tepat di malam pernikahan Lena pergi dari rumah. Dia menuju rumah Samuel. Samuel sudah melarangnya, dan menyuruh Lena kembali ke rumah. Tapi Lena bertekad tidak akan melaksanakan pernikahan itu.

    Di paginya Pandu sudah bersiap-siap. Namun di dalam hatinya tetap dia merasa galau. Karena hubungannya dengan dengan Len amemang sedang tidak baik. Tetapi dia tetap menuju tempat pernikahan.

    Ketika sesampainya di tempat pernikahan dilihatnya Lena tidak ada. Keluarga Lena yang cemas berusaha meminta maaf. Tapi, tidak ada satu orang pun yang berani menghampiri Pandu. Karena Pandu sangat marah dan langsung saja pergi.

    ...
   
    Tepat satu tahun sesudah pernikahan itu gagal Pandu memdapat surat undangan pernikahan yang sama persis dengan undangan pernikahan mereka yang gagal. Diselipkan dalam surat undangan itu secarik kertas. Di kertas itu tertulis sebuah alamat dan Lena juga menulis,

Kamu nggak akan menyesal, karena gagal menikah dengan aku tepat satu tahun yang lalu. Tapi aku minta untuk yang terakhir kalinya, aku mohon kamu datang sekarang. Aku percaya kamu pasti datang.

    Pandu yang tersinggung lalu menuju ke alamat yang terdapat di surat itu. Ternyata itu adalah rumah dokter Samuel. Pandu yang diarahkan oleh seorang anak kecil menuju kolam renang.
    Di sana Lena sedang berdiri membelakangi dan dia menggunakan baju pernikahannya. Tidak ada satu pun keluar dari mulutnya. Pandu pun kesal melihat sikap Lena, "Lena, apa maksud kamu? ... Sekarang apa? Apa yang mau kamu tunjukan sama aku?"
    Namun tidak lama Lena jatuh, Pandu kaget, Samuel lalu datang dan langsung memeriksa keadaan Lena. Namun ternyata Lena sudah meninggal.

    Pandu menangis keras sampai pada saat Lena dikuburkan. Dukanya begitu dalam. Dia belum siap untuk ditinggalkan Lena begitu saja walaupun setahun tidak bertemu. Apalagi hubungannya dengan Lena yang kacau sampai diakhir hidup Lena. Pandu sungguh tidak bisa terima.
    Seminggu sesudah itu Samuel menemuinya, "Kamu harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku harus meluruskan semua... Bahwa sebenarnya Lena mengidap penyakit kanker darah. Dia tidak mau satu orang pun tahu, bahkan walaupun itu kamu. Kebohongannya waktu itu sebenarnya hanya untuk menutupi penyakitnya, bukankah kalau kita hanya teman untuk apa dia selalu pergi ke rumah sakit. Dan dia ke rumah sakit hanya karena penyakitnya saja dan bukan karena saya. Sebagai seorang yang sakit kanker darah, dia sangat kuat. Seharusnya dia dirawat di rumah sakit, tapi dia tidak mau. Dan dia lebih menjalani hidupnya ini baik-baik saja, seakan tidak ada apa-apa."
    "Lalu kenapa dia tidak mau menikah dengan kau?"
    "Itu karena dia tidak mau menyusahkanmu, membuatmu menjadi jauh lebih kecewa. Karena bukankah kamu lebih tidak siap ditinggalkannya jika statusnya sudah menjadi istrimu. Dia hanya ingin menjadi istri yang baik, yang bisa mengurusmu dengan baik, yang bisa membawa kebahagian untukmu, dan bukankah setiap wanita ingin memberikan keturunan kepada pasangan hidupnya? Dia ingin tapi dia tidak bisa. Jadi dia pikir tidak perlu menikah denganmu."

    Ketika Pandu mengetahui hal itu, dia lalu menuju kubur Lena. Dia meminta maaf, "Lena, perempuan satu-satunya yang aku cintai. Kamu baik sekali. Tidak ada yang lebih baik daripada kamu. Maafkan aku. Aku menyesal. Aku menyesal...... Seandainya semua bisa diulang aku akan tetap menikah dengan kamu. Dan diakhir hidup kamu, aku akan membuat kamu bahagia.
    Lena, aku hanya cinta kamu..."

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar