Senin, 20 Juni 2011

Kangen Putus Sama Kamu

Dengan rasa malu mungkin karena seorang gadis remaja yang kepergok selingkuh berkata, "Nggak bisa, Vin. Lebih baik kita putus aja ya... Maaf!"
    Lalu  6 bulan berselang Revin menerima sms dari pacar yang baru 1 minggu di dipacarinya dan isinya...
    KITA PUTUS AJA!!!!!!
    Payah memang. Padahal dia itu good looking, pinter, baik,berduit, dan sebenarnya adalah tipe orang yang sangat setia pada pasangannya. Namun mungkin dia sedang sial.
    "Ouh putus... Apa-apaan ini. Sopan sekali memutuskan aku begitu saja. Caranya juga nggak gentle banget. Emang sich cewe... Tapi kan ada donk cara mutusin yang bagus... Coba   aja semua cewe kayak Putri yang punya cara murusin yang unik....Aaahk aku jadi kangen putus sama kamu, Put. Kamu dimana ya sekarang?"
    Ya Putri orangnya. Tiga lalu ketika Revin yang masih kelas 11 SMA bertemu dengan seorang siswi. Revin yang tadinya duduk di kelas 10 harus memutuskan masuk kelas IPA atau IPS. Dia tidak bisa masuk IPS karena dia tidak pandai mengafal, sehingga mau tidak mau dia masuk kelas IPA.
    Di kelasnya XI IPA-2, dia bertemu teman yang baru. Dia mulai melihat dan memperhatikan temannya satu persatu. Ada yang memang sudah kenal bahkan akrab sekali, tapi... hey lihat, ada seorang siswi yang duduk tidak jauh dengannya. Gadis itu bernama Putri. Dia terus saja melirik dan  memperhatikannya. Dia memperhatikannya, karena ada kemiripan antara Putri dengan almarhum kakaknya. Di saat gadis itu Revin, dia pura-pura manoleh ke arah lain. Ya begitu saja selama 1 hari bahkan sampai 1 minggu pertama sekolah ajaran barunya.
    Kali ini ketika Revin melihatnyanya lagi, dan Putri yang tahu Revin melihatnya menjadi merasa terganggu. Akhirnya Putri melihat Revin. Saat itu Revin hanya bisa berkata, "Hai!", dengan manis Putri menjawab "Hai juga..." Sebenarnya Putri kebingungan, apa ada yang salah dengannya. Yang membuat kejadian ini menjadi aneh adalah karena saat itu adalah pelajaran berlangsung. Beberapa murid yang melihatnya bingung juga. Aneh!
    Suatu hari Revin melihat Putri berjalan pulang. Revin mau tidak mau berjalan di belakang Putri karena mereka jalan satu arah. Revin baru tahu ternyata Putri setiap pulang sekolah selalu jalan kemari. Dan Revin sangat senang bisa pulang bersama Putri.
    "Put, sendiri aja..." Revin menyapa Putri dengan semangat.
    "Hah... Iya..." Putri yang kaget karena tidak menyadari ada Revin di belakangnya hanya jawab seadanya.
    "Mmh... "
    Setelah percakapan sangat singkat itu mereka hanya diam saja sampai perempatan. Di mana mereka berjalan ke arah yang berbeda.
    "Vin, aku duluannya."
    "Iya, hati-hati ya."
    Revin yang hanya diam diperjalan, dia sebenarnya gugup. Lagi pula dia tahu kalau Putri itu anak yang pendiam di kelasnya. Lagi pula Revin mau bicara apa? Sedangkan Putri yang memang anak rumahan, merasa heran dengan ucapan Revin yang terakhir "Iya, hati-hati ya", sebelumnya tidak ada laki-laki yang pernah mengucapkannya.
    "Hei, aku baru beli majalah baru."
    "Lihat ramalan bintangnya!"
    "Putri, bintang kamu apa?"
    "Bintang aku Virgo... Aku dulu ya! Minggu ini kamu harus lebih terbuka sama orang, supaya orang juga bisa enak deket sama kamu. Keuangan lagi bagus, Asmara kamu lagi ditaksir sama orang yang deket sama kamu, temen satu kerja..."
    "Waw, bisa jadi temen satu kelas ini..... siapa ya?"
    "Hah... Aaahk...cuman ramalan bintang aja..."
    "Ih, bisa aja aja donk."
    Sementara yang lain membaca ramalan bintang mereka, Putri hanya duduk diam saja. Revin tahu akan ramalan itu...dia lalu berkata, "Aku suka sama kamu..." Tapi karena anak satu kelas yang ribut dan suara Revin yang pelan (mungkin sengaja, tapi memang suaranya pelan) walaupun dalam jarak 3 m, tapi perkataannya tidak jelas. Sekali pun Putri meminta Revin mengulang perkataannya, namun tetap saja tidak jelas. Hah,,, lucu...
    Di perjalan pulang Revin dan Putri yang hampir selalu pulang bersama, ya masih sepi saja. Tapi kali ini hujan lebat...mereka harus berteduh dahulu... Mereka berdua kelihatan serasi karena kebetulan memakai warna jacket yang sama.
    "Put,"
    "Iya?"
    Lalu petir yang sangat besar menyambar. Putri biasa saja, namun justru Revin yang ketakutan.
    "Kamu kenapa, Vin?"
    "Nggak... Put, kamu miirip sama kakak aku," rupanya Revin hanya mencoba mengalihkan pembicaraan.'Tapi sayang dia udah meninggal. Dia sama kamu pendiam sekali. Tapi aku yakin kok kamu anak yang unik. Di balik pendiamnya kamu, pasti ada yang istimewa. Aku jadi mau tahu... Mmh... Ouh iya, Put. Jadi gimana?"
    "Gimana apa?"
    "Itu lho, Put!"
    "Itu apa?"
    "Yang itu!"
    "Yang itu apa?"
    "Kamu pura-pura nggak tahu atau apa?"
    "Aaahk nggak ngerti..."
    "Di kelas aku udah ngomong suka kan sama kamu, aku mau kamu jadi pacar aku. Kamu mau kan, Put."
    "Ih... Kok... Huh... Gimana ya? Kita lihat besok aja ya. Aku cari ilham dulu. Aku pulang dulu ya, Vin!" Putri bingung mau bilang apa. Dia memilih cepat pulang. Putri langsung saja naik angkotan umum yang kebetulan berhenti di depannya. Entah mau apa kalau angkot itu tidak kebetulan ada di depannya.
    "Ouh iya..."
    Kali ini Revin yang aneh dengan kata-kata Putri "Aku cari ilham dulu". Tapi Revin merasa bahagia, paling tidak dia tidak langsung ditolak. Berharap saja supaya Putri mendapatkan ilham yang bagus dan mau jadi pacarnya.
    Keesokannya setibanya di sekolah, Revin bukannya lekas menyimpan tasnya dia malah mendatangi Putri. "Gimana?", tanya Revin. Putri tidak menjawab apa pun, tapi dia mengangguk sambil tersenyum manis. "Makasih ya, Put!" senyum Putri pun semakin lebar.
    Mereka adalah pasangan yang diidamanin sama anak kelas. Mereka saling mengerti satu sama lain. Lucunya kalau ada pasangan yang sedang mendapat masalah, tidak sedikit yang berkonsultasi pada mereka. Dalam hal komukasi, mereka sangat baik. Tidak selalu berdua memang, tapi mereka itu bisa percaya dan menjaga kepercayaan satu sama lain. Ya Romantis yang jelas sih...
    Tepat sebulan sesudah mereka pacaran. Putri ingin ke rumah Revin. Revin dengan senang hati memperbolehkan Putri datang ke rumahnya.
    "Selamat datang di rumah aku, Put!"
    "Rumah kamu besar juga ya?"
    "Ya udah, biar enak ngobrolnya di halaman belakang yuk. Di sana lumayan asri lah..."
    "Iya boleh!"
    Mereka pun duduk di kursi besar. Di sana banyak pepohonan, ada juga kolam ikan di sana.
    "Sudah sebulan ya, Put!"
    "Iya..."
    "Kamu mau minum apa? Biar aku ambil dulu."
    "Udah duduk dulu aja. Aku itu mau kasih sesuatu sama kamu." Putri mengeluarkan kue tar kecil yang penuh coklat dari tasnya. "Ini bisa kita makan berdua. Nggak terlalu besar atau terlalu kecil kan?"
    "Lho...?"
    "Aku mau kita habisin kue ini berdua sekarang. Bisa kan?"
    "Hahaha... Kamu lucu banget... Ya udah kita makan."
    Sambil makan mereka bercerita tentang ini lah itu lah... Lumayan deh... Sambil bercanda ketawa...Tak terasa ternyata kue itu habis juga. Putri mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan ternyata isinya adalah coklat.
    "Kamu masih mau makan coklat?"
    "Aku baru makan kue yang penuh coklat, kamu kok nawarin coklat lagi?"
    "Coba kamu ibaratkan coklat itu seperti cinta. Ya seperti itu...cinta awalnya memang enak. Tapi seperti kue coklat itu, waktu kamu memakannya sampai habis dan kamu harus makan coklat lagi kamu pasti tidak akan memakannya walaupun aku tahu itu coklat itu enak."
    "Aku nggak ngerti, Put!"
    "Seperti aku, orang yang mempunyai cinta di hidup aku, dan itu dari kamu. Tapi aku tidak mau termakan cinta kamu yang terlalu manis itu sampai berlebihan... Tapi aku suka sama kamu."
    "Apa maksud kamu?"
    "Aku rasa cinta aku ke kamu, rasanya sudah hampir memakan coklat ini. Tapi tentu tidak, karena rasanya dimulut tidak akan terlalu enak. Karena yang past terlalu manis, malah aku bisa enek. Jadi sebelum aku semakin jatuh cinta sama kamu, dan nggak bisa lepasin kamu, atau malah kita punya masalah besar yang enek karena kau menerima cinta dari kamu terlalu banyak, lebih baik kita akhiri saja hubungan ini."
    "Maksudnya kita putus. Kok..."
    "Maaf ya... Itu karena aku cinta sama kamu. Tapi aku belum sanggup untuk menerima cinta kamu lebih dari sekarang. Aku belum mau terlarut dalam cinta yang berlebih."
    "Tapi kan..."
    "Vin..."
    "Put, aku nggak bisa putus sama kamu!"
    "Kamu harus bisa!"
    "Ayolah, Vin."
    "Sebenernya aku nggak mau.... Tapi alasan kamu mutusin aku karena kamu sayang sama aku, itu alasan yang aneh. Tapi aku ngerti kok... Aku malah berterimakasih sama kamu, dan bersyukur karena aku udah punya pacar kayak kamu. Mungkin cuman kamu yang putusin aku kayak gini."
    "Hhh, biar walau pun kita udah putus, tapi hubungan kita baik. Apalagi kita teman satu kelas."
    "Sebenernya aku sedih putus sama kamu, tapi makasih ya! Ini pengalaman putus yang tidak buruk."
    "Aku mau peluk kamu yang terakhir kali boleh?"
    Revin memeluk Putri. Ternyata itu adalah pertemuan terakhir Putri dan Revin sebelum Putri pindah ke luar kota. Putri hanya ingin merasa lega meninggalkan Revin yang sekarang tidak berstatus sebagai pacar lagi. Karena akan lebih berat rasanya ketika Putri meninggalkan Revin ketika mereka masih berpacaran.

Cuman Kamu

Lena dan Pandu dua bulan lagi akan menikah. Mereka berpacaran terbilang lama yakni 5 tahun, meskipun memang tidak mudah melewati lima tahun berpacaran, karena tidak mungkin semuanya baik-baik saja. Sebagai pasangan yang telah lama menjalin hubungan, mereka juga tentu mempersiapkan pernikahan mereka jauh-jauh hari agar pernikahan tersebut berjalan dengan baik, karena pernikahan bukanlah moment yang biasa-biasa saja, melainkan ini adalah peristiwa sekali seumur hidup yang istimewa demi masa depan sebuah keluarga.
    Suatu saat Pandu ingin mengajak Lena untuk mencoba baju pengantinnya. Pandu menjeput Lena ke rumahnya, tetapi Lena tidak di sana. Pandu pun menelpon Lena, "Len, kamu ada di mana sekarang? Aku mau ngajak kamu coba baju pernikahan kita nanti."
    "Aku sekarang di rumah sakit," jawab Lena, tapi terdengar dari suaranya ia ragu untuk mengatakannya.
    "Kamu kenapa? Kalau kamu sakit kan kamu bisa antar aku."
    "Tapi aku....." Lena belum selasai bicara namun Pandu langsung menutup telponnya.
    Akhirnya Pandu pun segera menuju rumah sakit. Sebagai seorang calon suami dia tentu khawatir. Tetapi dilihatnya Lena sedang berbicara dengan dokter muda, Pandu menjadi sedikit cemburu melihatnya, "Len, kamu sakit apa?"
    "Aku nggak sakit apa-apa kok, udah kamu nggak usah khawatir," Lena mencoba meyakinkan sambil memegang tangan Pandu.
    "Terus kalau gitu ngapain kamu ke sini?"
    "Aku cuman....."
    "Cuma apa?"
    "Aku cuman mau kunjungi sepupu aku. Jadi dokter ini sepupuku, namanya Samuel," jawab Lena, tapi di saat dia berbicara bibirnya bergetar dan terlihat dia ragu.
    "Perkenalkan, nama saya Samuel," Samuel memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
    "Saya Pandu, calon suami Lena," jawab Pandu cepat sambil membalas uluran tangan Samuel.
    "Kalau gitu kita duluan ya Sam!" kata Lena.
    "oh iya silahkan, lagi pula saya masih ada tugas." Samuel masuk ke sebuah ruangan, Lena dan Pandu pun pergi meninggalkan rumah sakit ke tempat fitting baju pernikahan.
   
    Di perjalanan menuju kantor, Pandu melihat Lena ke rumah sakit tempat Samuel bekerja. Pandu pun menjadi semakin penasaran terhadap hubungan Samuel dan Lena. Sesampainya di kantor, Pandu dan Ine yang adalah teman satu kantor pun bertemu, Ine adalah sepupu Lena. PAndu rupanya ingin mengetahui informasi Samuel darinya.
    "Ine, apa kamu tahu seberapa dekat hubungan Samuel dengan Lena?"
    "Samuel? Aku nggak kenal orang yang namanya Samuel. Lagi pula kenapa kau tanya aku?"
    "Samuel, masa nggak tau? Samuel yang dokter. Samuel itu kan sepupu Lena. Paling nggak yang dia bilang ya begitu."
    "Maaf, tapi aku nggak kenal Samuel. Tapi rasanya dia nggak punya sepupu yang namanya Samuel."
    "Hah... yang benar saja. Apa mungkin sepupu yang bukan dari keluargamu?"
    "Sepertinya tidak, tidak ada keluarganya yang menjadi dokter.  Jika iya semestinya aku tahu. Memang ada apa sebenarnya?"
    "Entah aku hanya ingin ke dokter saja....." Pandu berbicara degnan ketus, karena memang dia tidak sakit.

    Pandu ternyata menemui Lena, terlihata dia marah,"Lena, buat apa kamu bohong?"
    "Bohong?"
    "Samuel... Ya Samuel, kamu bohong kan. Len? Aku udah tahu...mana ada sepupumu yang seorang dokter dengan nama Samuel?"
    "Pan... Aku  juga sebenernya nggak tahu kenpa harus bohong sama kamu."
    "Gak tahu kenapa kamu bohong, kamu itu sebenernya kenapa sih? Aneh... Kamu itu setahu aku orang yang logis... Sekarang aku tanya, siapa Samuel?"
    "Dia itu.....hanya teman SMA aku."
    "Hah...jawab begitukan bisa, terus kenapa harus bohong, Atau jangan-jangan kamu selingkuh sama dia. Jujur, aku lihat tadi pagi kamu datang lagi ke rumah sakit itu. Baru kemarin, tapi hari ini kamu udah ke sana...apa kamu sering ke sana? Inget donk, bentar lagi kita mau nikah!  Kalau kamu mau bisa aja kita melaksankan pernikahan di rumah sakit itu, atau...atau kamu mau pengantin laki-laki di pernikahan itu bukan aku tapi dia?" Pandu benar marah, dia berbicara dengan nada tinggi.
    "Udah cukup, Pan! Aku nggak mau kayak gitu, sungguh aku nggak mau kayak gitu akhirnya," Lena berbicara dengan nada yang lemah.
    "Terus apa mau kamu."
    "Kamu akan tahu, tapi... memang bukan sekarang waktunya."
    "Bukan sekarang? Ok kalau itu mau kamu. Tapi aku nggak mau peduli lagi sama kamu. Terserah apa mau kamu, aku juga akan bertindak suka-suka aku." Pandu pergi. Lena hanya diam sambil menangis, Dia sangat lemah bahkan hampir pingsan.
   
    Lena dan Pandu tidak bertemu sampai satu minggu sebelum pernikahan mereka. Pandu datang ke rumah Lena. Namun Lena tidak ada di rumah. Langsung saja tanpa berpikir panjang Pandu melaju dengan mobilnya ke rumah sakit dengan kencang.
    Ternyata benar saja Lena dan Samuel sedang berjalan-jalan di koridor rumah sakit. Pandu lekas mendatangi mereka, tidak diduga ternyata Pandu memukul Samuel, "Puas kamu... Puas kan? Mungkin sekarang kamu sedang bahagia sudah mengancurkan hubungan orang."
    Lena berusaha menghentikan amarah Pandu, namun Lena malah didorongnya. Lena pun menangis. Pandu cepat diseret oleh satpam yang datang. Tapi Pandu teteap berteriak yang tidak-tidak.
    "Sam, aku salah sama kamu. Kamu udah masuk ke dalam masalah aku sama Pandu."
    "Tidak, kamu tidak perlu minta maaf. Lagi pula saya tidak akan menyalahkan kamu atau Pandu sekali pun. Baiknya kamu pulang dan banyak-banyak istirahat."
    "Iya aku pulang," Lena pulang dengan termenung.

    Tepat di malam pernikahan Lena pergi dari rumah. Dia menuju rumah Samuel. Samuel sudah melarangnya, dan menyuruh Lena kembali ke rumah. Tapi Lena bertekad tidak akan melaksanakan pernikahan itu.

    Di paginya Pandu sudah bersiap-siap. Namun di dalam hatinya tetap dia merasa galau. Karena hubungannya dengan dengan Len amemang sedang tidak baik. Tetapi dia tetap menuju tempat pernikahan.

    Ketika sesampainya di tempat pernikahan dilihatnya Lena tidak ada. Keluarga Lena yang cemas berusaha meminta maaf. Tapi, tidak ada satu orang pun yang berani menghampiri Pandu. Karena Pandu sangat marah dan langsung saja pergi.

    ...
   
    Tepat satu tahun sesudah pernikahan itu gagal Pandu memdapat surat undangan pernikahan yang sama persis dengan undangan pernikahan mereka yang gagal. Diselipkan dalam surat undangan itu secarik kertas. Di kertas itu tertulis sebuah alamat dan Lena juga menulis,

Kamu nggak akan menyesal, karena gagal menikah dengan aku tepat satu tahun yang lalu. Tapi aku minta untuk yang terakhir kalinya, aku mohon kamu datang sekarang. Aku percaya kamu pasti datang.

    Pandu yang tersinggung lalu menuju ke alamat yang terdapat di surat itu. Ternyata itu adalah rumah dokter Samuel. Pandu yang diarahkan oleh seorang anak kecil menuju kolam renang.
    Di sana Lena sedang berdiri membelakangi dan dia menggunakan baju pernikahannya. Tidak ada satu pun keluar dari mulutnya. Pandu pun kesal melihat sikap Lena, "Lena, apa maksud kamu? ... Sekarang apa? Apa yang mau kamu tunjukan sama aku?"
    Namun tidak lama Lena jatuh, Pandu kaget, Samuel lalu datang dan langsung memeriksa keadaan Lena. Namun ternyata Lena sudah meninggal.

    Pandu menangis keras sampai pada saat Lena dikuburkan. Dukanya begitu dalam. Dia belum siap untuk ditinggalkan Lena begitu saja walaupun setahun tidak bertemu. Apalagi hubungannya dengan Lena yang kacau sampai diakhir hidup Lena. Pandu sungguh tidak bisa terima.
    Seminggu sesudah itu Samuel menemuinya, "Kamu harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku harus meluruskan semua... Bahwa sebenarnya Lena mengidap penyakit kanker darah. Dia tidak mau satu orang pun tahu, bahkan walaupun itu kamu. Kebohongannya waktu itu sebenarnya hanya untuk menutupi penyakitnya, bukankah kalau kita hanya teman untuk apa dia selalu pergi ke rumah sakit. Dan dia ke rumah sakit hanya karena penyakitnya saja dan bukan karena saya. Sebagai seorang yang sakit kanker darah, dia sangat kuat. Seharusnya dia dirawat di rumah sakit, tapi dia tidak mau. Dan dia lebih menjalani hidupnya ini baik-baik saja, seakan tidak ada apa-apa."
    "Lalu kenapa dia tidak mau menikah dengan kau?"
    "Itu karena dia tidak mau menyusahkanmu, membuatmu menjadi jauh lebih kecewa. Karena bukankah kamu lebih tidak siap ditinggalkannya jika statusnya sudah menjadi istrimu. Dia hanya ingin menjadi istri yang baik, yang bisa mengurusmu dengan baik, yang bisa membawa kebahagian untukmu, dan bukankah setiap wanita ingin memberikan keturunan kepada pasangan hidupnya? Dia ingin tapi dia tidak bisa. Jadi dia pikir tidak perlu menikah denganmu."

    Ketika Pandu mengetahui hal itu, dia lalu menuju kubur Lena. Dia meminta maaf, "Lena, perempuan satu-satunya yang aku cintai. Kamu baik sekali. Tidak ada yang lebih baik daripada kamu. Maafkan aku. Aku menyesal. Aku menyesal...... Seandainya semua bisa diulang aku akan tetap menikah dengan kamu. Dan diakhir hidup kamu, aku akan membuat kamu bahagia.
    Lena, aku hanya cinta kamu..."

   

Senin, 02 Mei 2011

Kesempurnaan Hati


“Bisa saya melihat bayi saya?” pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk.
Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, “Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya aku ini makhluk aneh.”
            Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, “Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?” Namun dalam hati ibu merasa kasihan padanya.
Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. “Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,” kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka. Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, “Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia,” kata sang ayah.
Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, “Yah, aku harus mengetahui siapayang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.” Ayahnya menjawab, “Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.” Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, “Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.”
Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah… bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. “Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,” bisik sang ayah. “Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?”
Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.

Minggu, 24 April 2011

Rahel...


Rahel... Irulah nama seorang dokter yang sekarang bekerja di Rumah Sakit Siloam ternyata memiliki masa SMA yang aneh. Saat itu Rahel masih menduduki kelas XII SMA yang memiliki banyak teman dan 9 guru yang bergantian mengajar setiap minggunya. Rahel bersekolah di SMA Harapan. Di sekolah Rahel tidak memiki otak yang terlalu pintar, tetapi Rahel juga tidak memiliki otak yang kosong. Paling tidak otaknya encer dalam beberapa mata pelajaran.        
Teman sebangkunya adalah Tia, walau memang bukan keinginanya namun wali kelasnya yang membuatnya duduk dengan Tia. Dia cukup pintar paling tidak dia masuk dalam 5 besar dan selalu baik dalam pelajaran Inggris. Dia juga termasuk ke dalam kelompok anak perempuan yang tidak biasa. Mereka sering sekali pulang sekolah bersama 1 angkot dan juga temanku Vita.
          Pada saat hari Selasa masuklah guru pelajaran berhitung yang berbeda dari fisik dan sikap dengan guru matematika. Guru berhitungnya adalah Pak Doli, yang juga sekaligus guru kesenian. Pak Doli berbadan tinggi tegap apalagi dengan kumis rapinya yang sangat membuatnya sangat mudah diingat.
          Ketika itu waktunya pelajaran berhitung, yang ternyata terdapat soal yang sangat sulit karena belum pernah dipelajari. Tapi entah mengapa Rahel bisa mengerjakannya.
“Sungguh sentuhan ajaib,” kata Rahel sambil teresenyum lebar.
”Pintarnya Si Rahel ini. Siapa yang sudah terangkannya? Logikamu sudah berjalan,” kata Pak Doli dengan sedikit logat Bataknya.
          Saat pulang sekolah seperti biasa Rahel, Tia, dan Vita pulang bersama. Tiba-tiba Vita mulai bercerta tentang sepupunya yang lagi-lagi tidak masuk aekolah yang memang sekelas dengan mereka...
Vita pun mulai mengeluh, “Eh, kamu tau gak sepupu aku kayaknya udah jadi anak gak bener deh! Mungkin itu keturunan dari orang tuanya. Masa orang tuanya dikejar-kejar hutang, malah juga dikejar polisi gara-gara kasus penipuan. ”
“Iya, sepupu kamu itu gimana sih? Pantesan aja pindah-pindah, Tokonya aja udah gak keurus, liat aja gak jelas!” sahut Tia.
          Pada waktu itu Rahel tidak beerkomentar hanya saja muka Rahel berubah layaknya orang yang sedang meledek. Dan tanpa sengaja Rahel melihat ke jendela belakang angkot yang kutumpangi dan ternyata Pak Doli sedang mengendarai motornya tepat di belakang mobil. Mukanya terlihat marah tapi juga ingin tertawa. Yang lebih parah lagi Rahel duduk tepat di ujung jendela belakang  mobil. Rahel tahu dan sangat jelas Pak Doli melihat muka Rahel yang meledek.Tentu saja bapak mengira muka ini ditujukan padanya.
Tia mulai tertawa sambil berkata,”Tau gak yang tadi itu Pak Doli. Masa, muka kamu kaya gitu!”
          “Eh, nanti gimana kalau bapak marah? Liatkan muka bapak udah merah.”  Kata Vita
          “Terus gimana…? Pasti ini awal dari masalah. Udahlah mau diapain lagi udah terlanjur.” Rahel mulai bicara walau agak tertawa sekaligus takut. Dan akhirnya hari itu berakhir.
          Dua hari berselang ada lagi pelajaran berhitung. Pada waktu itu memang sedang pergantian musim, Banyak sekali teman yang tak masuk. Tia juga memang sedang sakit tapi dia tetap masuk sekolah. Karena banyak yang tidak masuk sekolah, maka banyak kursi kosong pula.
          “Banyak sekali yang tidak masuk hari ini! Daripada kursi kosong yang duduk di belakang pindah ke depan! Isi kursi kosong lainnya!” komentar Pak Doli melihat kehadiran mereka yang sedikit.
          Semua mulai mengatur tempatnya. Itu yang membuat terdapat dua laki-laki yang gendut dan sama-sama suka bercanda duduk tepat di depan mereka. Mereka pun mulai bercanda tanpa tidak memperhatikan apa yang diterangkan oleh Pak Doli. Siapa yang paling lucu mukanya maka dia yang akan menjadi pemenang. Mereka pun mulai membentuk muka mereka agar lucu. Tapi semakin lama muka mereka semakin dekat, seperti orang yang berciuman. Sontak itu membuat Rahel dan Tia tertawa dengan suara yang keras.
          Pak Doli mulai menoleh kepada mereka dengan muka yang sedikit marah. “Ada apa kalian berdua memangnya apa yang lucu? Jawab duu Rahel…TiaDimananya yang lucu?”
          Semua murid diam termasuk Rahel dan Tia. Mulut seperti dikunci dan darah berhenti mengalir, padahal jantung berdetak kencang. Rahel jadi ingat kejadian kemarin. Mungkin bapak memendam dan melampiaskan marahnya sekarang.
          “Sudah kalian berdua ke kantor sana lapor ke kepala sekolah!” Pak Doli mulai marah dan mendorong serta menjewer mereka.
Entah perasaan Rahel atau memang begitu, pada saat Pak Doli akan menampar Tia, namun pada akhirnya karena badan Tia yang pendek bapak menampar Rahel. Terasa sekali tangannya ragu-ragu untuk menampar. Karena mungkin bapak mengira tingkah Rahel menjadi seperti ini, karena berteman dengan Tia yang termasuk dalam kelompok anak perempuan yang tidak biasa itu.  
“Di luar saja sana lapor ke kepala sekolah!” sambungnya lagi.
Mereka berdua tidak dapat melakukan apa-apa termasuk bicara. Mereka hanya berjalan perlahan menuju kantor. Pedih sekali rasanya sanga adik kelas bertanya, ”Kakak kenapa dimarahin sama Pak Doli? ”
          Tia dengan tersedu menjawab. ”Gak apa-apa,” Air mata Rahel mulai melintang, apa lagi saat Rahel ingat Tia sedang sakit panas.
          Mereka berdua sangat kebingungan saat telah berada di depan kantor. Ada beberapa guru yang lewat tapi hanya diam dan pergi. Lalu ada guru matematika yang yang cantik dan baik lewat.
Dia mulai bertanya, ”Kenapa kalian berdua di sini menangis? Dimarahin sama siapa? Sama pak Heru?” Mereka pun menggelengkan kepala.
“Sama pak Wage?” Untuk yang kedua kalinya mereka menggelengkan kepala.
“Sama Pak Doli?” baru satu ini mereka mengangguk dan tangisan mereka menjadi semaki kuat.
“Ya sudah, sabar-sabar!” jawab ibu sambil menepuk bahu mereka. Tetapi pada akhirnya dia pergi lagi tanpa menolong apa-apa. Sungguh memandangan yang miris. Dan tangisan mereka semakin kuat lagi.
Tak lama dari itu salah satu TU menghampiri mereka begitu juga dengan nenek Tia yang selalu bersama dengan adik Tia yang berada di TK.
          “Tia  kenapa nangis? Jawab Tia…! Rahel ngomong jangan diam aja!” teman Tia di kelas mulai bertanya.
          “Kenapa? Ya udah, masuk dulu panas di luar terus!” Bu Marta selaku TU menyuruh mereka masuk.
          “Gimana ceritanya ke sini sambil nangis?”
          “Disuruh Pak Doli ke sini katanya harus lapor ke kepala sekolah.” Jawab Rahel sambil terisak. Dengan cepat bu Marta memberi respon. Ia langsung memanggil ibu kepala sekolah.
          Kepala sekolah pun akhirnya datang. Perempuan bijak itu berjalan menghampiri mereka dengan muka heran. Katanya, ”Sama siapa kalian disuruh melapor?”
          “Sama Pak Doli” jawab Tia.
          “Memang tadi ada apa?”
          “Tadi kita lihat muka teman lucu. Terus kita tertawa terlalu keras jadi Pak Dolinya marah.”
          Mendengar itu ibu kepala sekolah mulai mengerti dan menasehati mereka, “Sekarang Ibu sudah mengerti, ternyata masalahnya kecil sekali. Yaitu kalian tidak menghargai guru dengan tidak memperhatikan. Malah melihat teman bermain dan tertawa keras. Itu tidak sopan. Sekarang masalahnya bisa salesai. Kalian minta maaf saja ke bapak. Pak Doli nanti juga tidak akan marah lagi.”
          Mendengar hal itu mereka mulai lega dan menghentikan tangisan mereka. Tanpa berfikir panjang mereka pun mulai kembali ke kelas. Terlihat Pak Doli sedang menunggu di sepan kelas. Setibanya di sana Pak Doli barkata dengan muka cemas katanya, ”Sudah, duduk kalian!”
          Akhirnya mereka duduk dengan rasa takut yang ternyata tidak hilang. Lalu Pak Doli memberi soal dan hanya diam saja sambil mengerjakan sesuatu dan Rahel tahu sebenarya Pak Doli cemas dan takut.
          Setelah pulang sekolah sepeti biasanya Rahel pulang bertiga. Di angkot mereka mulai bercerita tentang kejadian tadi.
          “Eh, kalian pasti gak tau. Waktu kalian berdua ke kantor. Pak Doli itu gak konsen ngajarnya. Pake salah   segala.   Contohnya    masa  11-5=5. Terus juga bapak tadi bilang sendiri bahwa bapak gak tega sama kalian tadi.” Kata Vita.        
          “Kamu sih, Rahel ketawanya terlalu keras!” komentar Tia.
          “Ya, tapi emang ketawa kamu juga gak keras apa?” kata Rahel.   “Udah, jangan saling menyalahkan, kan dua-duanya juga sama-sama salah... Atau mungkin bapak marah gara-gara kejadian dua hari yang lalu, Hel?”          Vita mulai berfikir.
          “Tadi juga Rahel udah berfikir kaya gitu, sih.” sahut Tia.
          “Padahal baru kemarin dipuji. Sekarang malah diginiin.” Kata Rahel sambil termenung.
          “Tapi jangan diomongin terus nanti bapak ada lagi di belakang mobil ini!” Mereka pun tertawa mendengar lelucon Tia.
          Keesokan harinya Rahel disuruh untuk bertemu dengan kepala sekolah bersama dengan Tia. Tapi Tia tidak masuk karena sakit panas. Rahel kira ada apa lagi dengan masalah ini. Tentu segera Rahel bertemu dengan kepala sekolah.
          “Rahel kemana Tia?” tanya kepala sekolah.
          “Gak masuk, Bu. Sakit panas.” Jawabku.
          “Sudah gak apa-apa. Gak usah tegang. Biar kita ngobrol sebentar. Waktu kemarin itu kalian disuruh dijemur tidak sama Pak Doli.” tanyanya.
          “Tidak, Bu!” jawabku.
          “Oh, kalau iya biar nanti ibu suruh Pak Doli dijemur ditengah lapangan biar saja 1 minggu. Pak Doli sudah dikasih tahu sama ibu biar jangan marah lagi. Biar saja bapak marah! Rahel anak pinter kok” Ibu kepala sekolah bercerita kepada seperti kepada anak kecil.
        Setelah percakapan itu Rahel kembali ke kelas. Kalau dipikir-pikir kenapa Rahel tadi tidak bilang kalau Rahel dijermur oleh Pak Doli biar dijemur 1 minggu. Tapi gak apa-apa Rahel kali ini benar-benar lega. Walau pun diantara Rahel dan Pak Doli tidak ada yang menta maaf.






Hachiko

Bertahun-tahun yang lampau, seekor anak anjing Akita tiba di Amerika dari Jepang . Di stasiun, anak anjing itu terlepas setelah kandangnya terjatuh dari gerbong barang, dan ditemukan oleh seorang dosen bernama Parker Wilson (Richard Gere). Parker langsung menyukai anak anjing itu. Setelah Carl penjaga stasiun menolak untuk mengurusnya, Parker membawanya pulang ke rumah. Di rumah, istri Parker yang bernama Cate (Joan Allen) keberatan suaminya memelihara anak anjing. Hari berikutnya, Parker berharap pemilik anjing itu telah menghubungi stasiun kereta api, namun ternyata pemiliknya yang sebenarnya tidak muncul. Parker secara diam-diam mengajak anak anjing itu naik kereta api ke kantor. Di kantor, Parker diberi tahu oleh seorang rekan yang orang Jepang bernama Ken, bahwa tanda di kalung anak anjing itu dibaca sebagai Hachiko, dalam bahasa Jepang, Hachiko berarti nasib baik. Parker lalu memberi nama anak anjing itu, Hachi. Menurut Ken, Parker dan Hachi sudah ditakdirkan untuk saling bertemu. Cate menerima telepon dari seseorang yang ingin memungut Hachi. Namun Cate membiarkan suaminya memelihara Hachi setelah melihat suaminya makin dekat dengan anak anjing itu.
Waktu berlalu, dan Hachi telah menjadi anjing setia Parker. Meskipun demikian, Parker heran Hachi menolak untuk melakukan kebiasaan normal seekor anjing seperti mengejar dan memungut bola. Ken memberi tahu bahwa Hachi hanya akan mau mengambil bola untuk alasan yang istimewa. Suatu pagi, ketika Parker berangkat kerja, Hachi menyelinap ke luar, dan mengikutinya hingga sampai di stasiun kereta api. Hachi menolak ketika disuruh pulang hingga Parker harus mengantarkannya pulang ke rumah. Sore itu, Hachi kembali pergi ke stasiun, dan menunggu hingga kereta api yang dinaiki tuannya datang. Parker akhirnya menyerah, dan membiarkan Hachi mengantarnya ke stasiun setiap hari. Setelah kereta api tuannya berangkat, Hachi pulang sendiri ke rumah, tapi ketika hari sudah sore, ia kembali lagi ke stasiun untuk menjemput. Kebiasaan Hachi mengantar dan menjemput Parker berlangsung beberapa lama. Namun pada suatu siang, Hachi menolak mengantar Parker yang ingin berangkat mengajar. Parker akhirnya berangkat sendirian, tapi Hachi mengejarnya sambil membawa bola. Parker terkejut, tapi senang Hachi akhirnya mau diajak bermain bola. Parker tidak ingin terlambat mengajar, dan pergi juga walaupun dilarang Hachi uang terus menggonggong. Siang itu, Parker yang mengajar sambil memegang bola milik Hachi, terjatuh tak sadarkan diri, dan meninggal dunia.
Di stasiun, Hachi dengan sabar menunggu kedatangan kereta api yang biasanya dinaiki tuannya ketika pulang, namun tuannya tidak juga pulang. Dia menunggu, dan menunggu hingga Michael, menantu Parker membawanya pulang. Keesokan harinya, Hachi kembali ke pergi ke stasiun dan menunggu tuannya. Ia menunggu sepanjang hari dan sepanjang malam. Setelah suaminya meninggal, Cate menjual rumah mereka, dan memberikan Hachi untuk dipelihara oleh anak perempuan Cate yang bernama Andy. Hachi pindah ke rumah Andy yang tinggal bersama suami bernama Michael. Keduanya memiliki bayi bernama Ronnie. Hachi tak lama kemudian lari untuk pulang ke rumah tempat tinggalnya dulu. Ia lalu kembali menunggu tuannya yang tidak kunjung pulang di stasiun. Hachi selalu duduk menunggu di tempat ia biasa menunggu. Penjual makanan di stasiun bernama Jas merasa kasihan, dan memberinya makan hot dog. Andy mencari-cari Hachi, dan menemukannya di stasiun. Hachi diajak pulang, namun keesokan harinya dibiarkan untuk kembali pergi ke stasiun.
Hachi mulai tidur di gerbong kereta yang rusak. Ia berjaga menunggu tuannya sewaktu siang, dan hidup dari makanan dan air yang diberikan oleh Jas dan seorang tukang daging. Pada satu hari, wartawan surat kabar bernama Teddy ingin tahu soal asal usul Hachi. Ia bertanya apakah dirinya dibolehkan menulis cerita tentang anjing itu. Setelah membaca artikel di surat kabar, orang-orang mulai mengirimi Carl uang, dengan pesan agar uang tersebut dibelikan makanan untuk Hachi. Ken sahabat Parker membaca artikel yang ditulis Carl, dan menyatakan kesediaan untuk membayari biaya hidup Hachi. Walaupun Parker sudah setahun meninggal dunia, Ken menyadari Hachi masih ingin dan merasa harus menunggu kepulangan tuannya, serta berharap tuannya masih hidup.
Tahun demi tahun berlalu, dan Hachi masih tetap menunggu di stasiun. Ketika mengunjungi makam Parker, Cate bertemu dengan Ken, dan mengaku dirinya masih merasa kehilangan suaminya yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Cate lalu pergi ke stasiun tempat Hachi menunggu. Ia terkejut melihat Hachi yang sudah tua, kotor, dan lemah, namun terus setia menunggu tuannya. Ketika kembali ke rumah, Cate bercerita soal Hachi kepada Ronnie yang sudah berusia 10 tahun. Malam itu, Hachi menunggu di tempatnya biasa menunggu, tempatnya berbaring dan jatuh terlelap, bermimpi bertemu Parker.
Selesai sudah laporan Ronnie tentang Hachi kepada teman-temannya sekelas. Kesetiaan Hachi menunggu Parker, kakek Ronnie, menjadikan Hachi sebagai pahlawan selama-lamanya di mata Ronnie. Sore itu, Ronnie berjalan-jalan bersama seekor anak anjing Akita di tempat kakeknya pernah berjalan-jalan bersama Hachi.
Anjing Hachiko yang sebenarnya, lahir di Odate, Prefektur Akita, Jepang pada tahun 1923. Setelah pemiliknya yang bernama Dr. Eisaburo Ueno, seorang dosen di Universitas Tokyo meninggal dunia pada bulan Mei 1925, keesokan harinya Hachi kembali menunggu kepulangan tuannya di Stasiun Shibuya. Ia terus menunggu, dan menunggu hingga sembilan tahun berikutnya. Hachiko akhirnya mati pada bulan Maret 1935. Patung Hachiko dari perunggu, kini dapat dijumpai di tempatnya biasa menunggu, di luar Stasiun Shibuya, Tokyo.