Minggu, 24 April 2011

Rahel...


Rahel... Irulah nama seorang dokter yang sekarang bekerja di Rumah Sakit Siloam ternyata memiliki masa SMA yang aneh. Saat itu Rahel masih menduduki kelas XII SMA yang memiliki banyak teman dan 9 guru yang bergantian mengajar setiap minggunya. Rahel bersekolah di SMA Harapan. Di sekolah Rahel tidak memiki otak yang terlalu pintar, tetapi Rahel juga tidak memiliki otak yang kosong. Paling tidak otaknya encer dalam beberapa mata pelajaran.        
Teman sebangkunya adalah Tia, walau memang bukan keinginanya namun wali kelasnya yang membuatnya duduk dengan Tia. Dia cukup pintar paling tidak dia masuk dalam 5 besar dan selalu baik dalam pelajaran Inggris. Dia juga termasuk ke dalam kelompok anak perempuan yang tidak biasa. Mereka sering sekali pulang sekolah bersama 1 angkot dan juga temanku Vita.
          Pada saat hari Selasa masuklah guru pelajaran berhitung yang berbeda dari fisik dan sikap dengan guru matematika. Guru berhitungnya adalah Pak Doli, yang juga sekaligus guru kesenian. Pak Doli berbadan tinggi tegap apalagi dengan kumis rapinya yang sangat membuatnya sangat mudah diingat.
          Ketika itu waktunya pelajaran berhitung, yang ternyata terdapat soal yang sangat sulit karena belum pernah dipelajari. Tapi entah mengapa Rahel bisa mengerjakannya.
“Sungguh sentuhan ajaib,” kata Rahel sambil teresenyum lebar.
”Pintarnya Si Rahel ini. Siapa yang sudah terangkannya? Logikamu sudah berjalan,” kata Pak Doli dengan sedikit logat Bataknya.
          Saat pulang sekolah seperti biasa Rahel, Tia, dan Vita pulang bersama. Tiba-tiba Vita mulai bercerta tentang sepupunya yang lagi-lagi tidak masuk aekolah yang memang sekelas dengan mereka...
Vita pun mulai mengeluh, “Eh, kamu tau gak sepupu aku kayaknya udah jadi anak gak bener deh! Mungkin itu keturunan dari orang tuanya. Masa orang tuanya dikejar-kejar hutang, malah juga dikejar polisi gara-gara kasus penipuan. ”
“Iya, sepupu kamu itu gimana sih? Pantesan aja pindah-pindah, Tokonya aja udah gak keurus, liat aja gak jelas!” sahut Tia.
          Pada waktu itu Rahel tidak beerkomentar hanya saja muka Rahel berubah layaknya orang yang sedang meledek. Dan tanpa sengaja Rahel melihat ke jendela belakang angkot yang kutumpangi dan ternyata Pak Doli sedang mengendarai motornya tepat di belakang mobil. Mukanya terlihat marah tapi juga ingin tertawa. Yang lebih parah lagi Rahel duduk tepat di ujung jendela belakang  mobil. Rahel tahu dan sangat jelas Pak Doli melihat muka Rahel yang meledek.Tentu saja bapak mengira muka ini ditujukan padanya.
Tia mulai tertawa sambil berkata,”Tau gak yang tadi itu Pak Doli. Masa, muka kamu kaya gitu!”
          “Eh, nanti gimana kalau bapak marah? Liatkan muka bapak udah merah.”  Kata Vita
          “Terus gimana…? Pasti ini awal dari masalah. Udahlah mau diapain lagi udah terlanjur.” Rahel mulai bicara walau agak tertawa sekaligus takut. Dan akhirnya hari itu berakhir.
          Dua hari berselang ada lagi pelajaran berhitung. Pada waktu itu memang sedang pergantian musim, Banyak sekali teman yang tak masuk. Tia juga memang sedang sakit tapi dia tetap masuk sekolah. Karena banyak yang tidak masuk sekolah, maka banyak kursi kosong pula.
          “Banyak sekali yang tidak masuk hari ini! Daripada kursi kosong yang duduk di belakang pindah ke depan! Isi kursi kosong lainnya!” komentar Pak Doli melihat kehadiran mereka yang sedikit.
          Semua mulai mengatur tempatnya. Itu yang membuat terdapat dua laki-laki yang gendut dan sama-sama suka bercanda duduk tepat di depan mereka. Mereka pun mulai bercanda tanpa tidak memperhatikan apa yang diterangkan oleh Pak Doli. Siapa yang paling lucu mukanya maka dia yang akan menjadi pemenang. Mereka pun mulai membentuk muka mereka agar lucu. Tapi semakin lama muka mereka semakin dekat, seperti orang yang berciuman. Sontak itu membuat Rahel dan Tia tertawa dengan suara yang keras.
          Pak Doli mulai menoleh kepada mereka dengan muka yang sedikit marah. “Ada apa kalian berdua memangnya apa yang lucu? Jawab duu Rahel…TiaDimananya yang lucu?”
          Semua murid diam termasuk Rahel dan Tia. Mulut seperti dikunci dan darah berhenti mengalir, padahal jantung berdetak kencang. Rahel jadi ingat kejadian kemarin. Mungkin bapak memendam dan melampiaskan marahnya sekarang.
          “Sudah kalian berdua ke kantor sana lapor ke kepala sekolah!” Pak Doli mulai marah dan mendorong serta menjewer mereka.
Entah perasaan Rahel atau memang begitu, pada saat Pak Doli akan menampar Tia, namun pada akhirnya karena badan Tia yang pendek bapak menampar Rahel. Terasa sekali tangannya ragu-ragu untuk menampar. Karena mungkin bapak mengira tingkah Rahel menjadi seperti ini, karena berteman dengan Tia yang termasuk dalam kelompok anak perempuan yang tidak biasa itu.  
“Di luar saja sana lapor ke kepala sekolah!” sambungnya lagi.
Mereka berdua tidak dapat melakukan apa-apa termasuk bicara. Mereka hanya berjalan perlahan menuju kantor. Pedih sekali rasanya sanga adik kelas bertanya, ”Kakak kenapa dimarahin sama Pak Doli? ”
          Tia dengan tersedu menjawab. ”Gak apa-apa,” Air mata Rahel mulai melintang, apa lagi saat Rahel ingat Tia sedang sakit panas.
          Mereka berdua sangat kebingungan saat telah berada di depan kantor. Ada beberapa guru yang lewat tapi hanya diam dan pergi. Lalu ada guru matematika yang yang cantik dan baik lewat.
Dia mulai bertanya, ”Kenapa kalian berdua di sini menangis? Dimarahin sama siapa? Sama pak Heru?” Mereka pun menggelengkan kepala.
“Sama pak Wage?” Untuk yang kedua kalinya mereka menggelengkan kepala.
“Sama Pak Doli?” baru satu ini mereka mengangguk dan tangisan mereka menjadi semaki kuat.
“Ya sudah, sabar-sabar!” jawab ibu sambil menepuk bahu mereka. Tetapi pada akhirnya dia pergi lagi tanpa menolong apa-apa. Sungguh memandangan yang miris. Dan tangisan mereka semakin kuat lagi.
Tak lama dari itu salah satu TU menghampiri mereka begitu juga dengan nenek Tia yang selalu bersama dengan adik Tia yang berada di TK.
          “Tia  kenapa nangis? Jawab Tia…! Rahel ngomong jangan diam aja!” teman Tia di kelas mulai bertanya.
          “Kenapa? Ya udah, masuk dulu panas di luar terus!” Bu Marta selaku TU menyuruh mereka masuk.
          “Gimana ceritanya ke sini sambil nangis?”
          “Disuruh Pak Doli ke sini katanya harus lapor ke kepala sekolah.” Jawab Rahel sambil terisak. Dengan cepat bu Marta memberi respon. Ia langsung memanggil ibu kepala sekolah.
          Kepala sekolah pun akhirnya datang. Perempuan bijak itu berjalan menghampiri mereka dengan muka heran. Katanya, ”Sama siapa kalian disuruh melapor?”
          “Sama Pak Doli” jawab Tia.
          “Memang tadi ada apa?”
          “Tadi kita lihat muka teman lucu. Terus kita tertawa terlalu keras jadi Pak Dolinya marah.”
          Mendengar itu ibu kepala sekolah mulai mengerti dan menasehati mereka, “Sekarang Ibu sudah mengerti, ternyata masalahnya kecil sekali. Yaitu kalian tidak menghargai guru dengan tidak memperhatikan. Malah melihat teman bermain dan tertawa keras. Itu tidak sopan. Sekarang masalahnya bisa salesai. Kalian minta maaf saja ke bapak. Pak Doli nanti juga tidak akan marah lagi.”
          Mendengar hal itu mereka mulai lega dan menghentikan tangisan mereka. Tanpa berfikir panjang mereka pun mulai kembali ke kelas. Terlihat Pak Doli sedang menunggu di sepan kelas. Setibanya di sana Pak Doli barkata dengan muka cemas katanya, ”Sudah, duduk kalian!”
          Akhirnya mereka duduk dengan rasa takut yang ternyata tidak hilang. Lalu Pak Doli memberi soal dan hanya diam saja sambil mengerjakan sesuatu dan Rahel tahu sebenarya Pak Doli cemas dan takut.
          Setelah pulang sekolah sepeti biasanya Rahel pulang bertiga. Di angkot mereka mulai bercerita tentang kejadian tadi.
          “Eh, kalian pasti gak tau. Waktu kalian berdua ke kantor. Pak Doli itu gak konsen ngajarnya. Pake salah   segala.   Contohnya    masa  11-5=5. Terus juga bapak tadi bilang sendiri bahwa bapak gak tega sama kalian tadi.” Kata Vita.        
          “Kamu sih, Rahel ketawanya terlalu keras!” komentar Tia.
          “Ya, tapi emang ketawa kamu juga gak keras apa?” kata Rahel.   “Udah, jangan saling menyalahkan, kan dua-duanya juga sama-sama salah... Atau mungkin bapak marah gara-gara kejadian dua hari yang lalu, Hel?”          Vita mulai berfikir.
          “Tadi juga Rahel udah berfikir kaya gitu, sih.” sahut Tia.
          “Padahal baru kemarin dipuji. Sekarang malah diginiin.” Kata Rahel sambil termenung.
          “Tapi jangan diomongin terus nanti bapak ada lagi di belakang mobil ini!” Mereka pun tertawa mendengar lelucon Tia.
          Keesokan harinya Rahel disuruh untuk bertemu dengan kepala sekolah bersama dengan Tia. Tapi Tia tidak masuk karena sakit panas. Rahel kira ada apa lagi dengan masalah ini. Tentu segera Rahel bertemu dengan kepala sekolah.
          “Rahel kemana Tia?” tanya kepala sekolah.
          “Gak masuk, Bu. Sakit panas.” Jawabku.
          “Sudah gak apa-apa. Gak usah tegang. Biar kita ngobrol sebentar. Waktu kemarin itu kalian disuruh dijemur tidak sama Pak Doli.” tanyanya.
          “Tidak, Bu!” jawabku.
          “Oh, kalau iya biar nanti ibu suruh Pak Doli dijemur ditengah lapangan biar saja 1 minggu. Pak Doli sudah dikasih tahu sama ibu biar jangan marah lagi. Biar saja bapak marah! Rahel anak pinter kok” Ibu kepala sekolah bercerita kepada seperti kepada anak kecil.
        Setelah percakapan itu Rahel kembali ke kelas. Kalau dipikir-pikir kenapa Rahel tadi tidak bilang kalau Rahel dijermur oleh Pak Doli biar dijemur 1 minggu. Tapi gak apa-apa Rahel kali ini benar-benar lega. Walau pun diantara Rahel dan Pak Doli tidak ada yang menta maaf.






Hachiko

Bertahun-tahun yang lampau, seekor anak anjing Akita tiba di Amerika dari Jepang . Di stasiun, anak anjing itu terlepas setelah kandangnya terjatuh dari gerbong barang, dan ditemukan oleh seorang dosen bernama Parker Wilson (Richard Gere). Parker langsung menyukai anak anjing itu. Setelah Carl penjaga stasiun menolak untuk mengurusnya, Parker membawanya pulang ke rumah. Di rumah, istri Parker yang bernama Cate (Joan Allen) keberatan suaminya memelihara anak anjing. Hari berikutnya, Parker berharap pemilik anjing itu telah menghubungi stasiun kereta api, namun ternyata pemiliknya yang sebenarnya tidak muncul. Parker secara diam-diam mengajak anak anjing itu naik kereta api ke kantor. Di kantor, Parker diberi tahu oleh seorang rekan yang orang Jepang bernama Ken, bahwa tanda di kalung anak anjing itu dibaca sebagai Hachiko, dalam bahasa Jepang, Hachiko berarti nasib baik. Parker lalu memberi nama anak anjing itu, Hachi. Menurut Ken, Parker dan Hachi sudah ditakdirkan untuk saling bertemu. Cate menerima telepon dari seseorang yang ingin memungut Hachi. Namun Cate membiarkan suaminya memelihara Hachi setelah melihat suaminya makin dekat dengan anak anjing itu.
Waktu berlalu, dan Hachi telah menjadi anjing setia Parker. Meskipun demikian, Parker heran Hachi menolak untuk melakukan kebiasaan normal seekor anjing seperti mengejar dan memungut bola. Ken memberi tahu bahwa Hachi hanya akan mau mengambil bola untuk alasan yang istimewa. Suatu pagi, ketika Parker berangkat kerja, Hachi menyelinap ke luar, dan mengikutinya hingga sampai di stasiun kereta api. Hachi menolak ketika disuruh pulang hingga Parker harus mengantarkannya pulang ke rumah. Sore itu, Hachi kembali pergi ke stasiun, dan menunggu hingga kereta api yang dinaiki tuannya datang. Parker akhirnya menyerah, dan membiarkan Hachi mengantarnya ke stasiun setiap hari. Setelah kereta api tuannya berangkat, Hachi pulang sendiri ke rumah, tapi ketika hari sudah sore, ia kembali lagi ke stasiun untuk menjemput. Kebiasaan Hachi mengantar dan menjemput Parker berlangsung beberapa lama. Namun pada suatu siang, Hachi menolak mengantar Parker yang ingin berangkat mengajar. Parker akhirnya berangkat sendirian, tapi Hachi mengejarnya sambil membawa bola. Parker terkejut, tapi senang Hachi akhirnya mau diajak bermain bola. Parker tidak ingin terlambat mengajar, dan pergi juga walaupun dilarang Hachi uang terus menggonggong. Siang itu, Parker yang mengajar sambil memegang bola milik Hachi, terjatuh tak sadarkan diri, dan meninggal dunia.
Di stasiun, Hachi dengan sabar menunggu kedatangan kereta api yang biasanya dinaiki tuannya ketika pulang, namun tuannya tidak juga pulang. Dia menunggu, dan menunggu hingga Michael, menantu Parker membawanya pulang. Keesokan harinya, Hachi kembali ke pergi ke stasiun dan menunggu tuannya. Ia menunggu sepanjang hari dan sepanjang malam. Setelah suaminya meninggal, Cate menjual rumah mereka, dan memberikan Hachi untuk dipelihara oleh anak perempuan Cate yang bernama Andy. Hachi pindah ke rumah Andy yang tinggal bersama suami bernama Michael. Keduanya memiliki bayi bernama Ronnie. Hachi tak lama kemudian lari untuk pulang ke rumah tempat tinggalnya dulu. Ia lalu kembali menunggu tuannya yang tidak kunjung pulang di stasiun. Hachi selalu duduk menunggu di tempat ia biasa menunggu. Penjual makanan di stasiun bernama Jas merasa kasihan, dan memberinya makan hot dog. Andy mencari-cari Hachi, dan menemukannya di stasiun. Hachi diajak pulang, namun keesokan harinya dibiarkan untuk kembali pergi ke stasiun.
Hachi mulai tidur di gerbong kereta yang rusak. Ia berjaga menunggu tuannya sewaktu siang, dan hidup dari makanan dan air yang diberikan oleh Jas dan seorang tukang daging. Pada satu hari, wartawan surat kabar bernama Teddy ingin tahu soal asal usul Hachi. Ia bertanya apakah dirinya dibolehkan menulis cerita tentang anjing itu. Setelah membaca artikel di surat kabar, orang-orang mulai mengirimi Carl uang, dengan pesan agar uang tersebut dibelikan makanan untuk Hachi. Ken sahabat Parker membaca artikel yang ditulis Carl, dan menyatakan kesediaan untuk membayari biaya hidup Hachi. Walaupun Parker sudah setahun meninggal dunia, Ken menyadari Hachi masih ingin dan merasa harus menunggu kepulangan tuannya, serta berharap tuannya masih hidup.
Tahun demi tahun berlalu, dan Hachi masih tetap menunggu di stasiun. Ketika mengunjungi makam Parker, Cate bertemu dengan Ken, dan mengaku dirinya masih merasa kehilangan suaminya yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Cate lalu pergi ke stasiun tempat Hachi menunggu. Ia terkejut melihat Hachi yang sudah tua, kotor, dan lemah, namun terus setia menunggu tuannya. Ketika kembali ke rumah, Cate bercerita soal Hachi kepada Ronnie yang sudah berusia 10 tahun. Malam itu, Hachi menunggu di tempatnya biasa menunggu, tempatnya berbaring dan jatuh terlelap, bermimpi bertemu Parker.
Selesai sudah laporan Ronnie tentang Hachi kepada teman-temannya sekelas. Kesetiaan Hachi menunggu Parker, kakek Ronnie, menjadikan Hachi sebagai pahlawan selama-lamanya di mata Ronnie. Sore itu, Ronnie berjalan-jalan bersama seekor anak anjing Akita di tempat kakeknya pernah berjalan-jalan bersama Hachi.
Anjing Hachiko yang sebenarnya, lahir di Odate, Prefektur Akita, Jepang pada tahun 1923. Setelah pemiliknya yang bernama Dr. Eisaburo Ueno, seorang dosen di Universitas Tokyo meninggal dunia pada bulan Mei 1925, keesokan harinya Hachi kembali menunggu kepulangan tuannya di Stasiun Shibuya. Ia terus menunggu, dan menunggu hingga sembilan tahun berikutnya. Hachiko akhirnya mati pada bulan Maret 1935. Patung Hachiko dari perunggu, kini dapat dijumpai di tempatnya biasa menunggu, di luar Stasiun Shibuya, Tokyo.